Di tengah kepulan asap dan lahan yang masih membutuhkan penanganan, ada mereka yang tetap berada di lapangan. Para petugas dan relawan berjibaku melakukan pemadaman, pendinginan, sekaligus menjaga agar api tidak kembali menjalar.
Namun, di balik upaya memadamkan api, ada kebutuhan lain yang tak kalah penting: menjaga mereka yang berada di garis depan tetap terlindungi dan memiliki cukup tenaga untuk menjalankan tugas.
Melihat kebutuhan tersebut, CSR PT GunaRita melalui Relawan Nusantara turut mengambil bagian dalam respon kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Jumat, 4 September 2026.
Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung para relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla sekaligus membantu masyarakat yang terdampak kondisi asap di sekitar lokasi.
Dukungan untuk Mereka yang Berada di Lapangan
Dalam aksi tersebut, CSR PT. GunaRita menyalurkan sejumlah kebutuhan pendukung kesehatan, berupa masker, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), vitamin, dan suplemen.
Masker menjadi salah satu kebutuhan penting ketika asap masih menyelimuti wilayah terdampak. Sementara PMT, vitamin, dan suplemen diberikan sebagai bentuk dukungan untuk membantu menjaga kondisi dan stamina selama situasi darurat berlangsung.
Bagi mereka yang berhari-hari berada di lapangan, bantuan sederhana dapat memiliki arti yang besar. Sebab ketika api belum sepenuhnya padam, pekerjaan pun belum selesai.
Para relawan dan petugas masih harus berpindah dari satu titik ke titik lainnya, melakukan pemadaman, pendinginan, serta memastikan api tidak kembali menyala. Pada saat yang sama, masyarakat di sekitar lokasi juga harus menghadapi kualitas udara yang menurun akibat asap karhutla.
Karhutla Kalimantan Barat Masih Menjadi Perhatian
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian hingga September 2026.
Pada 4 September, BNPB melaporkan bahwa dari 166 hotspot yang terdeteksi BMKG di Kalimantan Barat, sebanyak 61 titik telah terverifikasi sebagai lokasi kebakaran berdasarkan pengecekan di lapangan. Data tersebut menunjukkan bahwa informasi titik panas dari satelit tetap membutuhkan verifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.
Sementara itu, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir.
Berdasarkan pemantauan BMKG selama 10 hari terakhir hingga 10 September 2026, Kalimantan Barat mencatat 2.102 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Angka tersebut menjadi yang tertinggi kedua setelah Kalimantan Tengah dalam periode pemantauan tersebut. BMKG juga mengingatkan bahwa sebaran asap masih bertahan di tengah kondisi kemarau.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bahkan memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Asap akibat karhutla hingga 20 September 2026, karena operasi penanganan dan pendinginan masih terus dilakukan oleh satgas darat dan udara.
Artinya, meski sejumlah titik api telah berhasil dikendalikan, perjuangan belum benar-benar usai.
Kubu Raya, Salah Satu Wilayah yang Menghadapi Karhutla Kalimantan
Kubu Raya menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Kondisi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah. Karena itu, pemadaman tidak berhenti ketika api yang terlihat telah padam. Proses pendinginan dan pembasahan tetap diperlukan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Pemerintah dan berbagai unsur pun terus memperkuat penanganan di lapangan. Pada awal September, operasi darat dan udara dilakukan secara intensif, termasuk dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membasahi wilayah gambut yang rawan terbakar. BMKG mencatat pelaksanaan OMC untuk penanganan karhutla di Kalimantan Barat pada periode 5–14 September 2026.
Di tengah upaya tersebut, dukungan dari berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat respon terhadap bencana.
CSR PT GunaRita Hadir Melalui Relawan Nusantara
Bagi CSR PT GunaRita, kepedulian terhadap bencana bukan hanya tentang bagaimana membantu ketika api membesar. Dukungan juga dibutuhkan untuk memastikan masyarakat dan mereka yang berada di garis depan mendapatkan kebutuhan dasar selama proses penanganan berlangsung.
Melalui Relawan Nusantara, bantuan tersebut disalurkan langsung untuk mendukung respon karhutla di Kubu Raya.
Kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, petugas, relawan, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya memiliki peran masing-masing dalam menghadapi situasi darurat.
Ketika satu pihak membantu memadamkan api, pihak lain dapat membantu memastikan para pejuang di lapangan tetap memiliki perlindungan dan tenaga.
Karena dalam sebuah bencana, kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ia bisa hadir melalui sebungkus makanan, sebotol vitamin, suplemen, atau masker yang membantu seseorang tetap bertahan menjalankan tugasnya.
Dan dari hal-hal sederhana itulah, sebuah respon kemanusiaan terus bergerak. Sebab ketika api masih berusaha dipadamkan, kepedulian pun harus tetap dinyalakan.
