Sejak gempa mengguncang wilayah Flores pada pertengahan Agustus 2026, gedung SDI Lengkosambi di Desa Lengkosambi, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, belum bisa digunakan seperti biasa. Proses belajar-mengajar pun ikut terganggu.
Menjawab kondisi tersebut, Relawan Nusantara membangun sekolah darurat agar siswa-siswi SDI Lengkosambi tetap memiliki tempat untuk belajar selama sekolah utama dalam proses pemulihan.
Kelas yang Tak Lagi Aman untuk Ditempati
Kerusakan pada bangunan sekolah membuat ruang kelas tidak memungkinkan digunakan untuk aktivitas belajar normal. Bagi anak-anak, ini berarti kehilangan rutinitas harian yang selama ini menjadi bagian penting dari keseharian mereka.
Padahal, pendidikan tidak seharusnya berhenti hanya karena gedung sekolah rusak. Anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, bertemu guru, dan berkumpul bersama teman-teman mereka.
Dari kebutuhan itulah pembangunan sekolah darurat di Lengkosambi dimulai.
Pembangunan Sekolah Darurat SDI Lengkosambi dari Terpal
Pembangunan sekolah darurat mulai dikerjakan pada 5 September 2026. Bangunan ini dirancang dengan ukuran 30 meter x 10 meter dan terbagi menjadi enam ruang kelas.
Setiap ruang kelas direncanakan menampung sekitar 20 hingga 30 siswa. Dengan begitu, anak-anak tetap bisa belajar berkelompok layaknya suasana kelas pada umumnya.
Terpal dipilih sebagai material atap. Konsepnya sederhana, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan, namun tetap diusahakan agar layak dan nyaman digunakan.
Ruang Sederhana, Semangat Belajar yang Tetap Utuh
Bangunan ini memang bersifat sementara. Namun kehadirannya memberi arti besar bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak SDI Lengkosambi.
Guru SDI Lengkosambi, Agustina Pajung, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas bantuan ini. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada SDI Lengkosambi. Dengan adanya sekolah darurat ini, anak-anak tetap memiliki ruang untuk belajar meskipun sekolah kami masih dalam kondisi yang belum memungkinkan untuk digunakan seperti biasa,” ujarnya.
Ucapan itu menggambarkan bagaimana satu ruang belajar sederhana dapat mengembalikan sesuatu yang sempat hilang dari anak-anak: kesempatan untuk terus bersekolah.
Relawan dan Guru Sepakat: Anak-Anak Harus Tetap Belajar
Naufal Fajrul dari Relawan Nusantara menjelaskan alasan di balik pembangunan sekolah darurat ini. “Kami membangun sekolah darurat ini karena kami melihat anak-anak tetap harus belajar meskipun kondisi sekolah mereka masih terdampak. Bangunan ini memang sifatnya sementara, tetapi kami berharap bisa menjadi ruang belajar yang nyaman sampai sekolah utama selesai direnovasi dan bisa digunakan kembali,” katanya.
Pandangan itu sejalan dengan apa yang dirasakan pihak sekolah. Baik guru maupun relawan memiliki tujuan yang sama: memastikan hak belajar anak-anak tidak ikut terhenti akibat bencana.
Kesamaan pandangan ini yang kemudian mempercepat proses pembangunan hingga dapat segera dimanfaatkan.
Sampai Sekolah Utama Kembali Berdiri
Sekolah darurat ini akan terus digunakan hingga gedung utama SDI Lengkosambi selesai diperbaiki dan dinyatakan aman untuk ditempati kembali. Selama masa itu, siswa-siswi tetap dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa harus menunggu proses pemulihan gedung sekolah rampung.
Bagi Relawan Nusantara, pemulihan pascabencana tidak berhenti pada perbaikan fisik bangunan. Anak-anak juga perlu dipastikan tidak kehilangan kesempatan untuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita mereka.
Sekolah boleh sementara, tetapi semangat belajar anak-anak tidak boleh berhenti. Perjalanan menuju sekolah utama yang aman dan layak masih membutuhkan uluran tangan dari banyak pihak. Klik di sini untuk membantu bangun kembali sekolah di NTT, dan jadilah bagian dari upaya mengembalikan ruang belajar yang layak bagi anak-anak SDI Lengkosambi.
Setiap kontribusi yang diberikan akan menjadi bagian dari upaya mengembalikan ruang belajar yang layak bagi anak-anak SDI Lengkosambi.

