WAEKOKAK, NUSA TENGGARA TIMUR — Pemulihan pascabencana tidak hanya tentang membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan dasar. Bagi anak-anak, memastikan mereka dapat kembali belajar juga menjadi bagian penting dari proses untuk bangkit.
Semangat tersebut terlihat di SD Inpres Waemburung, Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, ketika Relawan Nusantara bersama orang tua murid bergotong royong membangun sekolah darurat bagi 208 murid.
Pembangunan ruang belajar sementara ini dilakukan di tengah proses pemulihan pascagempa yang masih berlangsung di wilayah Flores.
Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak luas terhadap masyarakat di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur.
Memasuki awal September, aktivitas gempa susulan mulai menunjukkan penurunan. Namun, proses pemulihan belum selesai. BNPB melaporkan pada 7 September 2026 masih terdapat 72.864 warga yang mengungsi, terutama masyarakat dengan rumah yang mengalami kerusakan berat.
Di sektor pendidikan, kegiatan belajar mulai kembali dilakukan melalui sekolah-sekolah darurat. Selain pembelajaran, pendampingan psikososial juga menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat dan anak-anak melewati masa pemulihan.
Dalam situasi tersebut, kehadiran ruang belajar menjadi lebih dari sekadar fasilitas pendidikan. Sekolah dapat menjadi tempat bagi anak-anak untuk kembali menemukan rutinitas, bertemu teman, dan perlahan membangun kembali rasa aman setelah bencana.
Relawan Nusantara Bangun Sekolah Darurat di Waemburung
Di SD Inpres Waemburung, kebutuhan akan ruang belajar sementara mendorong Relawan Nusantara bersama orang tua murid untuk turun tangan secara langsung.
Sebanyak 6 buah terpal didistribusikan untuk digunakan sebagai material utama pembangunan sekolah darurat.
Dengan sarana yang terbatas, terpal tersebut kemudian dipasang dan disusun bersama-sama hingga menjadi ruang belajar sementara yang dapat digunakan oleh para murid.
Bantuan tersebut bukan hanya tentang material yang diberikan, tetapi tentang bagaimana masyarakat dan relawan mengubah keterbatasan menjadi ruang yang kembali memungkinkan anak-anak untuk belajar.
Orang Tua Murid Turut Bergotong Royong
Pembangunan sekolah darurat di SDI Waemburung dilakukan dengan melibatkan orang tua murid.
Mereka turut mengangkat material, memasang terpal, dan menyiapkan ruang yang nantinya digunakan anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan belajar.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pascabencana. Sebab, pemulihan tidak selalu dapat dilakukan oleh satu pihak.
Ketika relawan datang membawa dukungan, masyarakat ikut mengambil peran untuk memastikan bantuan tersebut dapat segera memberikan manfaat.
Gotong royong pun menjadi kekuatan yang mempertemukan keduanya.
Pos Segar Hadir di Tengah Proses Pembangunan
Di sela kegiatan pembangunan, Relawan Nusantara turut membuka Pos Segar, ruang sederhana yang disiapkan bagi masyarakat dan para orang tua murid yang terlibat dalam gotong royong.
Pos tersebut menjadi tempat untuk beristirahat, menikmati makanan dan minuman ringan, sekaligus berbincang dan berbagi cerita di tengah proses pemulihan.
Di tengah situasi pascabencana, momen sederhana seperti ini dapat menjadi bagian dari dukungan sosial bagi masyarakat yang sedang bersama-sama melewati masa sulit.
Menjaga Anak Tetap Belajar di Tengah Bencana
Bagi anak-anak, kembali ke ruang belajar berarti kembali memiliki rutinitas.
Mereka dapat kembali bertemu guru dan teman, belajar bersama, bermain, dan menjalani aktivitas yang sebelumnya mungkin terhenti akibat bencana.
Karena itu, penyediaan sekolah darurat bukan hanya tentang menghadirkan tempat untuk belajar sementara. Lebih dari itu, ia menjadi bagian dari upaya mengembalikan ruang aman bagi anak-anak di tengah proses pemulihan.
Di Waemburung, ruang sederhana yang dibangun dari terpal menjadi ikhtiar bersama untuk memastikan 208 murid SDI Waemburung tetap memiliki tempat untuk belajar.
Pemulihan Dimulai dari Gotong Royong
Pembangunan sekolah darurat di SDI Waemburung akan dilanjutkan hingga ruang belajar sementara tersebut dapat digunakan secara optimal oleh para murid.
Di tengah pemulihan pascagempa NTT, langkah kecil seperti ini menunjukkan bahwa proses bangkit dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana.
Dari orang tua yang meluangkan waktu.
Dari relawan yang datang membawa bantuan.
Dari tangan-tangan yang bekerja bersama.
Dan dari sebuah ruang sederhana yang dibangun agar anak-anak dapat kembali belajar.
Sebab, ketika bencana mengubah banyak hal dalam kehidupan anak-anak, menjaga mereka tetap belajar berarti ikut menjaga harapan untuk masa depan. Klik di sini untuk membantu bangun kembali sekolah di NTT.

