Berbagi Kebahagiaan Santri dengan Sarana Ibadah Pelosok

by | Jun 20, 2024 | Alat Ibadah, Blog, Masjid, Sosial | 0 comments

Setiap hari kita bisa dengan mudah menemukan makanan di sekitar kita. Saat lapar, kita tinggal membuka aplikasi, pergi ke warung, atau memasak makanan yang tersedia di rumah. Hal yang terasa biasa bagi kita, justru menjadi kemewahan bagi jutaan orang di Sudan.

Di balik ramainya pemberitaan dunia, ada satu krisis kemanusiaan yang tidak banyak mendapat perhatian. Sudan, negara yang berada di Afrika Timur Laut, hingga hari ini masih menghadapi konflik berkepanjangan yang membuat jutaan masyarakat kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan kehilangan akses terhadap makanan pokok.

Banyak keluarga tidak lagi memikirkan menu apa yang ingin dimakan. Mereka hanya berharap masih ada makanan yang bisa dibagikan kepada anak-anak mereka hari ini.

Krisis Pangan Sudan Bukan Terjadi Karena Makanan Habis

Banyak orang mengira kelaparan terjadi semata-mata karena suatu negara tidak memiliki pasokan makanan. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di Sudan, konflik yang berlangsung sejak tahun 2023 membuat banyak lahan pertanian terbengkalai. Pasar-pasar tutup, jalur distribusi terputus, harga bahan pokok melonjak tajam, dan bantuan kemanusiaan sangat sulit menjangkau wilayah yang paling membutuhkan.

Akibatnya, makanan mungkin masih ada di beberapa daerah, tetapi tidak pernah sampai kepada mereka yang sedang kelaparan. Banyak keluarga akhirnya harus bertahan hidup dengan makanan yang sangat terbatas, bahkan hanya makan sekali dalam sehari atau tidak sama sekali.

Jutaan Orang Menghadapi Ancaman Kelaparan

Data terbaru dari UNICEF, FAO, dan World Food Programme (WFP) menunjukkan bahwa hampir 19,5 juta orang di Sudan kini mengalami krisis pangan akut. Itu berarti sekitar dua dari lima penduduk Sudan sedang kesulitan mendapatkan makanan yang cukup setiap harinya.

Lebih memprihatinkan lagi, ratusan ribu orang telah berada pada tingkat kelaparan yang sangat parah dan berisiko mengalami bencana kelaparan. Angka tersebut terlihat besar dan di balik setiap angka, ada kehidupan yang sedang berjuang.

Ada ibu yang harus membagi satu porsi makanan untuk seluruh anggota keluarganya. Ada anak-anak yang tidur dalam keadaan lapar. Ada lansia yang memilih tidak makan agar cucunya bisa mendapatkan bagian.

Anak-Anak Menjadi Korban yang Paling Merasakan Dampaknya

Saat makanan semakin sulit didapat, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Tubuh mereka membutuhkan asupan gizi untuk tumbuh dan berkembang. Ketika kebutuhan dasar itu tidak terpenuhi, tubuh mereka menjadi lemah, mudah terserang penyakit, dan pertumbuhannya terganggu.

UNICEF memperkirakan lebih dari 825 ribu balita di Sudan berisiko mengalami gizi buruk akut yang mengancam keselamatan jiwa mereka sepanjang tahun 2026.

Bayangkan seorang ibu yang hanya memiliki sedikit makanan di rumah. Ia harus memilih siapa anak yang lebih dulu makan, sementara semua anaknya sama-sama menangis karena lapar. Tidak ada orang tua yang ingin berada dalam situasi yang memilukan seperti itu.

Mengapa Krisis Sudan Jarang Dibahas?

Banyak lembaga kemanusiaan menyebut Sudan sebagai salah satu krisis kemanusiaan yang paling kurang mendapat perhatian dunia.

Konflik yang berlangsung lama membuat pemberitaan tentang Sudan semakin sedikit. Di sisi lain, akses menuju wilayah konflik sangat sulit dan berbahaya, sehingga tidak banyak jurnalis yang bisa melaporkan kondisi masyarakat secara langsung.

Akibatnya, ketika perhatian dunia berkurang, bantuan yang datang pun sering kali tidak sebanding dengan kebutuhan yang terus meningkat. Padahal bagi masyarakat Sudan, setiap hari tanpa bantuan berarti semakin banyak keluarga yang terancam keselamatan jiwanya.

Sebagai Bentuk Ikhtiar Kecil yang Dampaknya Sangat Besar

Islam mengajarkan betapa mulia dan tingginya kedudukan orang yang mau berbagi makanan kepada sesamanya yang sedang kelaparan. Menolong saudara yang membutuhkan bantuan pangan bukan sekadar aksi sosial, melainkan bukti keimanan dan amalan utama penghuni surga. Allah SWT berfirman mengenai sifat orang-orang yang berbuat kebaikan :

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan: 8)

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa memberi makan adalah salah satu amalan terbaik dalam Islam: “Dari ‘Abdullah bin ‘Amr RA, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: ‘Islam manakah yang paling baik?’ Beliau menjawab: ‘Engkau memberi makan (kepada orang lain) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang belum engkau kenal.'” (HR. Bukhari no. 12 & Muslim no. 39)

Sering kali kita berpikir bahwa bantuan harus selalu berukuran besar agar bisa memberikan perubahan. Padahal bagi keluarga di Sudan, satu paket bahan pangan bisa menjadi alasan mereka mampu bertahan hidup beberapa hari ke depan. 

Klik disini untuk terus mengirimkan kepedulian dan solidaritas untuk saudara kita di Sudan. Mari ringankan beban saudara-saudara kita di Sudan, karena dari uluran tangan kita menjadi bukti bahwa di tengah krisis kemanusiaan ini, masih ada kepedulian dan solidaritas yang terus mengalir menjadi harapan bagi para penyintas di tengah krisis kemanusiaan yang belum berakhir.

Semoga setiap rezeki yang kita sisihkan menjadi jalan hadirnya senyum, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi saudara-saudara kita di Sudan.

Lombok Tengah (04/05) Alhamdulillah Relawan Nusantara telah melakukan penyalutan Karpet masjid melalui untuk Rumah Quran Yayasan Literasi Lumbuk Lombok. Sebanyak 100 lebih santri Rumah Quran telah merasakan manfaat karpet masjid yang diberikan, karena setelah pembangunan aula untuk kegiatan pembelajaran dan ibadah santri duduk tanpa adanya alas.

“Terimakasih kepada Donatur Relawan Nusantara yang selalu mensupport bantuan melalui Relawan Nusantara kepada kami.” Ucap salah satu pengurus Rumah Qur’an.

Dukung terus Program Berbagi Sarana Ibadah bersama Relawan Nusantara.