Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bertahan dalam ketidakpastian. Bagi 250 jiwa yang terbagi dalam 80 Kepala Keluarga di Dusun Harumanis, Desa Bagik Payung Induk, Lombok Timur, setiap terbit matahari selalu membawa kekhawatiran yang sama: dari mana air bersih untuk hari ini?
Di tengah hamparan keindahan Nusa Tenggara Barat, krisis air bersih justru mencekik kehidupan warga Harumanis. Akses terhadap air yang layak kini seolah menjadi kemewahan yang teramat sulit digapai.
Bertaruh Nyawa Menyusuri Tebing Curam Demi Air
Ketika melangkahkan kaki di Dusun Harumanis, kenyataan pahit langsung terlihat. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mencuci, warga tidak punya banyak
pilihan. Sebagian dari mereka harus bertaruh nyawa setiap hari.
Dengan membawa wadah seadanya, mereka menuruni aliran sungai yang berada di kedalaman tebing 30 meter. Medannya yang licin, curam, dan terjal menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga. Risiko tergelincir selalu mengintai, terutama bagi anak-anak dan lansia yang turut berjuang demi keluarganya.
“Setiap kali melihat anak-anak dan orang tua naik-turun dari tebing curam itu, hati kami selalu cemas. Tapi kalau tidak mengambil air ke sana, kami mau minum dari mana,?” tutur salah satu warga dengan mata berkaca-kaca.
Mengonsumsi Air Sungai Kotor dan Bayang-Bayang Penyakit
Tak hanya bahaya fisik di perjalanan, kualitas air yang mereka dapatkan pun sangat memprihatinkan. Selama ini, saluran pipa sepanjang 3 kilometer yang menghubungkan hulu sungai ke pemukiman warga seringkali hancur tersapu banjir dan erosi setiap musim hujan. Penampungan air di hulu telah rusak total, pondasinya tidak lagi tersisa.
Akibatnya, warga terpaksa mengonsumsi air sungai yang kotor, keruh, dan tidak layak. Ketika musim kemarau tiba, kekeringan melanda hingga berbulan-bulan lamanya, membuat sumber air yang kotor itu pun semakin menipis.
Selama hampir dua tahun krisis air bersih ini berlangsung, masyarakat terutama anak-anak sering terserang penyakit. Diare, infeksi kulit, dan gangguan kesehatan akibat bakteri serta polusi air menjadi makanan sehari-hari yang harus mereka hadapi.
Harapan Setinggi 60 Meter: Menanti Takdir Baik Hadirnya Air Bersih
Keterbatasan ekonomi tak pernah memadamkan semangat warga Dusun Harumanis untuk bergotong-royong. Saat saluran air rusak, Masyarakat bahu-membahu menyambung pipa yang patah di pinggir sungai. Namun, mereka sadar, ikatan tali dan tambalan pipa itu hanyalah sementara untuk permasalahan yang sudah bertahun-tahun mereka rasakan.
Rasa lelah dan kecemasan itu terpancar jelas dari raut wajah Bapak Sadikin, Kepala Dusun Harumanis. Bagi beliau, keselamatan dan kesehatan warga adalah beban yang terus berkecamuk di dalam dadanya.
“Beginilah keadaan masyarakat kami semenjak pipa kami hanyut terbawa arus sungai yang deras, Keadaan kami terpaksa harus menuruni tebing curam sedalam 30 meter demi mendapatkan air, Harapan kami sangat sederhana, kami ingin sekali memiliki sumur bor. Tapi melihat kondisi ekonomi warga yang serba terbatas, biaya pembuatan sumur bor terasa sangat mahal dan di luar jangkauan kami,” ungkap Pak Sadikin dengan suara bergetar.
Secara teknis, solusi jangka panjang untuk menyudahi penderitaan warga Dusun Harumanis sudah membayang di depan mata yaitu dengan pembangunan sumur bor. Namun, air bersih yang melimpah dan aman dari pencemaran itu berada di kedalaman 60 hingga 65 meter di bawah tanah tempat mereka berpijak.
Kedalaman 60 meter itu menyimpan jarak yang begitu jauh bagi kemampuan finansial warga. Biaya pengeboran puluhan meter tidak sanggup mereka tembus sendiri. Tanpa uluran tangan kita, impian menghadirkan air bersih yang mengalir dekat dari rumah mereka akan tetap menjadi sekadar mimpi.
Uluran Tangan Kita adalah Sambungan Kehidupan Mereka
Air bersih bukan hanya kebutuhan, akan tetapi hak dasar setiap manusia. Dan warga Dusun Harumanis sudah terlalu lama menanti tanpa kepastian. Klik disini untuk ikut membantu menghadirkan akses air bersih. Karena kehadiran sumur bor yang layak bukan hanya mengalirkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memutus mata rantai penyakit dan mengembalikan harapan hidup bagi ratusan warga di sana.
Relawan Nusantara berkomitmen untuk terus menghadirkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak krisis air bersih dan berbagai kondisi kemanusiaan lainnya. Semoga setiap tetes air yang tersalurkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi penerima dan para donatur yang terlibat dalam kebaikan ini.

