Cahaya dari Rumah yang Hampir Runtuh di Bandung Barat
Di sudut sederhana Kampung Cilengsar, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, berdiri sebuah rumah tua yang nyaris menyerah pada waktu. Dindingnya berlubang, sebagian bangunan tampak miring, dan setiap sudutnya menyimpan cerita tentang perjuangan yang tak mudah. Namun dari tempat yang tampak rapuh itulah, lahir cahaya yang justru tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari seorang perempuan sederhana bernama Ibu Rohaeti, yang akrab disapa Bu Eti.
Di usia 61 tahun, Bu Eti menjalani hidup sebagai seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga. Sejak pagi hingga sore, ia berjualan gorengan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Namun ketika senja mulai turun, perannya berubah. Suara lembutnya mulai terdengar, melantunkan ayat-ayat suci yang diajarkan kepada anak-anak di sekitar kampung. Di rumah yang nyaris roboh itu, Bu Eti bukan hanya bertahan, ia menghidupkan harapan.
Dari Pesantren ke Rumah Sederhana: Perjalanan yang Tak Mudah
Perjalanan hidup Bu Eti tidak selalu seperti ini. Ia pernah memiliki kehidupan yang lebih mapan bersama sang suami. Keduanya membangun sebuah pesantren, tempat anak-anak belajar, tempat ilmu tumbuh, dan tempat harapan disemai setiap hari.
Namun kehidupan berubah. Kondisi kesehatan suaminya yang semakin menurun memaksa mereka meninggalkan semuanya. Pesantren yang dulu menjadi sumber kebermanfaatan, perlahan harus ditinggalkan. Bu Eti pun harus memulai kembali dari nol, di tengah keterbatasan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanah yang kini ia tempati dulunya merupakan tanah wakaf. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha membeli sebagian kecilnya agar tetap bisa bertahan. Sementara sisanya masih ia gunakan sebagai tempat mengaji bagi anak-anak sekitar.
Tak ada ruang kelas. Tak ada bangku belajar. Bahkan tak ada sekat jelas antara ruang tinggal dan tempat belajar. Namun di sanalah, nilai-nilai kehidupan justru diajarkan dengan paling tulus.
Mengajar Tanpa Pamrih, Memberi Dampak Nyata
Bagi Bu Eti, mengajar bukan sekadar aktivitas. Ini adalah panggilan jiwa. Setiap hari, anak-anak datang dengan langkah kecil dan harapan besar. Mereka belajar membaca Al-Qur’an, mengenal nilai-nilai kebaikan, dan menemukan ruang aman untuk bertumbuh. Di tengah keterbatasan fasilitas, mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting, perhatian, kesabaran, dan kasih sayang.
Dampak dari ketulusan Bu Eti tak bisa diukur hanya dari jumlah murid. Ia telah membantu menjaga generasi kecil agar tetap memiliki arah, agar tidak kehilangan nilai, dan agar tetap percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.
Di tempat yang mungkin bagi sebagian orang tidak layak huni, justru lahir generasi yang perlahan menemukan cahaya hidupnya.
Ironisnya, tempat yang menjadi sumber cahaya itu justru berada di ambang keruntuhan. Atap yang mulai lapuk, dinding yang berlubang, dan struktur bangunan yang tidak lagi kokoh menjadi ancaman nyata setiap hari. Namun Bu Eti tetap bertahan. Ia tetap membuka pintu rumahnya. Tetap menyambut anak-anak dengan senyum hangat. Tetap mengajarkan ayat demi ayat dengan kesabaran yang tak berkurang sedikit pun. Seolah ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu meruntuhkan kekuatan hati.
Bu Eti adalah bukti nyata bahwa keteguhan tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari pilihan untuk terus berdiri, meski keadaan tak berpihak.
Ketika Kebaikan Kita Menjadi Lanjutan dari Perjuangannya
Kisah Bu Eti bukan hanya tentang perjuangan seorang ibu. Ini adalah tentang bagaimana satu cahaya kecil bisa menerangi banyak kehidupan. Namun kita juga tahu, cahaya itu membutuhkan penjagaan.
Hari ini, kita memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari cerita ini. Untuk memastikan bahwa rumah itu tidak lagi menjadi ancaman, melainkan tempat yang aman bagi Bu Eti dan anak-anak yang belajar di dalamnya. Untuk memastikan bahwa suara lembut yang mengajarkan ayat-ayat suci itu terus terdengar, tanpa dihantui rasa khawatir akan runtuhnya bangunan.
Karena sejatinya, membantu Bu Eti berarti kita terlibat untuk menjaga keberlanjutan kebaikan. Tentang memastikan bahwa lebih banyak anak bisa belajar, lebih banyak harapan bisa tumbuh, dan lebih banyak masa depan bisa diselamatkan.
Di balik setiap kebaikan yang sahabat titipkan, ada ruang belajar yang lebih layak. Ada anak-anak yang belajar dengan lebih nyaman. Dan ada seorang Bu Eti yang bisa melanjutkan pengabdiannya dengan lebih tenang.
Cahaya Itu Masih Menyala, Dan Kita Bisa Menjaganya
Di Kampung Cilengsar, cahaya itu masih menyala. Di tengah dinding yang rapuh dan atap yang mulai menyerah, Bu Eti tetap berdiri sebagai penjaga harapan. Ia terus memberi, bahkan ketika dirinya sendiri berada dalam keterbatasan.
Klik disini untuk ikut mengambil peran. Karena terkadang, kebaikan tidak perlu menunggu besar. Ia hanya perlu dimulai, agar cahaya yang sudah ada, tidak pernah benar-benar padam.
