Lagi-lagi gempa merusak sekolah. Namun, semangat belajar anak-anak tidak ikut runtuh. Di tengah kondisi pascabencana, sekolah darurat di NTT menjadi salah satu upaya untuk memastikan pendidikan tetap berjalan.
Kali ini, Relawan Nusantara membangun 6 ruang kelas dan 1 ruang guru darurat di SDK Nagesepadhi, Kabupaten Nagekeo. Sebanyak 170 siswa yang sebelumnya kehilangan ruang belajar akibat bangunan sekolah terdampak gempa kini memiliki tempat untuk kembali belajar.
Di tengah kondisi tersebut, Relawan Nusantara membangun 6 ruang kelas dan 1 ruang guru darurat untuk memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Ruang-ruang sederhana itu kini menjadi tempat anak-anak kembali belajar, bertemu guru, membaca buku, dan melanjutkan rutinitas mereka setelah bencana.
“Pendidikan anak-anak tidak boleh berhenti hanya karena kondisi bangunan sekolah yang belum bisa digunakan,” ujar Naufal Fajrul, Relawan Nusantara yang bertugas di lapangan.
Ketika Gedung Rusak, Semangat Belajar Tidak Ikut Runtuh

Gempa mungkin membuat bangunan sekolah harus ditinggalkan sementara. Namun, semangat belajar anak-anak tidak seharusnya ikut berhenti.
Bagi 170 siswa SDK Nagesepadhi, ruang belajar darurat menjadi jembatan agar mereka tetap dapat bersekolah sembari menunggu kondisi sekolah kembali memungkinkan untuk digunakan.
Kepala Sekolah SDK Nagesepadhi, Margareta M.A. Bei Lali, S.Pd., turut menyampaikan rasa syukur atas kehadiran ruang belajar sementara tersebut.
Bagi sekolah dan para siswa, kehadiran ruang darurat bukan sekadar tempat untuk memindahkan kegiatan belajar. Lebih dari itu, ruang tersebut menjadi bagian dari upaya untuk mengembalikan rutinitas anak-anak setelah bencana.
Sebab setelah bencana, anak-anak juga membutuhkan kepastian bahwa mereka masih bisa belajar, bermain, dan kembali mengejar cita-cita mereka.
12 Titik Sekolah Darurat untuk Menjaga Pendidikan di Tengah Bencana

Pembangunan sekolah darurat di SDK Nagesepadhi bukanlah satu-satunya respons pendidikan yang dilakukan Relawan Nusantara di Nusa Tenggara Timur.
Di sejumlah wilayah terdampak, kebutuhan ruang belajar menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat.
Hingga saat ini, Relawan Nusantara telah membangun 51 ruang kelas dan sekolah darurat di 12 titik yang tersebar di Kab. Nagekeo, Kab. Manggarai Timur dan Kab. Ngada bagi anak-anak terdampak bencana di NTT.
Angka tersebut bukan sekadar jumlah bangunan.
Di balik setiap ruang kelas, ada anak-anak yang membutuhkan tempat untuk kembali belajar. Ada guru yang ingin kembali mengajar. Ada orang tua yang berharap pendidikan anak-anak mereka tetap berjalan meski kondisi belum sepenuhnya pulih.
Karena itu, setiap ruang belajar yang dibangun menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga agar pendidikan tidak ikut terhenti bersama kerusakan bangunan.
Ruang Belajar Boleh Sementara, Harapan Harus Tetap Menyala

Sekolah darurat mungkin tidak dibangun dari dinding permanen dan fasilitas yang lengkap.
Namun, dari ruang-ruang sederhana itulah anak-anak kembali menatap papan tulis, membuka buku, dan belajar bersama teman-temannya. Mungkin hari ini mereka belajar di ruang yang berbeda. Mungkin bangunan sekolah mereka belum bisa kembali seperti semula.
Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah: kesempatan mereka untuk belajar dan bermimpi tentang masa depan. Karena pemulihan bukan hanya tentang memperbaiki bangunan yang rusak. Pemulihan juga berarti memastikan kehidupan tetap berjalan, anak-anak tetap mendapatkan pendidikan, dan harapan tetap memiliki tempat untuk tumbuh.
Ruang belajar boleh sementara, tapi semangat mereka harus tetap menyala.
Mari bersama Luaskan Manfaat untuk anak-anak dan masyarakat yang masih berjuang bangkit dari bencana di Nusa Tenggara Timur.

