Pagi biasanya menjadi waktu ketika anak-anak bersiap pergi sekolah, orang tua mulai bekerja, dan aktivitas di luar rumah perlahan dimulai.
Namun, di sejumlah wilayah Kalimantan, pagi tidak selalu datang dengan udara yang jernih.
Asap menggantung di udara. Jarak pandang berkurang. Aroma terbakar tercium di antara rumah-rumah. Bagi sebagian keluarga, membuka pintu dan jendela pun harus dipikirkan kembali.Di tengah kondisi tersebut, ada kekhawatiran yang lebih besar; bagaimana dampak kabut asap Kalimantan bagi anak-anak dan lanjut usia yang menghirup udara tersebut setiap hari?
Keduanya termasuk kelompok yang membutuhkan perhatian lebih akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti permukiman.
Karhutla Kalimantan dan Ancaman Kabut Asap bagi Warga
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menjadi perhatian pada Agustus 2026.
Aktivitas hotspot terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisinya juga dapat berubah dengan cepat karena dipengaruhi cuaca, angin, kondisi lahan, serta proses pemadaman di lapangan.
Hotspot memang tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Setiap titik panas tetap membutuhkan verifikasi untuk memastikan apakah benar merupakan kejadian kebakaran.
Namun, keberadaan hotspot dalam jumlah besar tetap menjadi pengingat bahwa karhutla di Kalimantan membutuhkan kewaspadaan.
Sebab, ketika hutan dan lahan terbakar, persoalannya tidak berhenti pada pohon dan tanah yang kehilangan tutupan. Asapnya bisa sampai ke tempat tinggal manusia. Ketika asap masuk ke ruang hidup warga, kebakaran hutan bukan lagi hanya persoalan lingkungan. Kabut asap menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Anak
Anak-anak mungkin belum memahami mengapa mereka tidak boleh bermain terlalu lama di luar rumah. Mereka hanya tahu bahwa udara terasa berbeda.
Mata mungkin terasa perih. Tenggorokan terasa tidak nyaman. Batuk mulai muncul. Aktivitas yang biasanya menyenangkan, seperti bermain di halaman atau bersepeda bersama teman, harus dikurangi.
Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan. Saluran pernapasan mereka masih berkembang dan kebutuhan udara mereka relatif tinggi dibandingkan ukuran tubuhnya.
Kementerian Kesehatan memasukkan bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit jantung atau paru sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat kabut asap. Salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Hingga 21 Agustus 2026, Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak langsung kabut asap karhutla.
Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA dalam satu minggu meningkat dari 402 menjadi 716 kasus atau sekitar 78,1 persen.
Angka tersebut mungkin terlihat seperti statistik. Tetapi di balik setiap angka, ada seseorang yang sedang berusaha bernapas lebih nyaman. Ada anak yang harus beristirahat di rumah. Ada orang tua yang cemas ketika batuk anaknya tak kunjung reda. Ada keluarga yang harus mengatur ulang aktivitas sehari-hari karena kualitas udara di luar rumah tidak lagi cukup baik untuk beraktivitas seperti biasa.
Dampak Kabut Asap bagi Lansia
Bagi orang lanjut usia, paparan asap juga bukan persoalan sederhana.
Tubuh yang sudah tidak sekuat ketika muda membuat lansia membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk, terutama jika mereka memiliki riwayat penyakit seperti asma, penyakit paru kronis, atau gangguan jantung. Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Paparan asap juga dapat memperburuk penyakit pernapasan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Karena itu, keluarga yang memiliki anggota lansia perlu memberikan perhatian lebih ketika kabut asap Kalimantan mulai memengaruhi kualitas udara di lingkungan tempat tinggal.
Menjaga udara di dalam rumah, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan memantau kondisi kesehatan menjadi bagian penting dari perlindungan. Bukan karena lansia lebih lemah. Tetapi karena pada usia tertentu, tubuh memang membutuhkan perlindungan yang lebih baik.
Bagaimana Cara Melindungi Anak dan Lansia dari Kabut Asap?
Ketika kabut asap mulai pekat, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Ketika kualitas udara sedang buruk, anak-anak sebaiknya tidak bermain di luar terlalu lama. Aktivitas fisik berat juga perlu dikurangi karena dapat membuat seseorang menghirup udara dalam jumlah lebih banyak.
Jika memungkinkan, lakukan kegiatan di dalam ruangan dan ikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi.
2. Gunakan Masker Saat Harus Keluar
Jika harus beraktivitas di luar rumah ketika udara tercemar asap, gunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara.
Namun, masker bukan berarti seseorang bebas beraktivitas di luar sepanjang hari. Ketika kualitas udara buruk, mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama.
3. Jaga Kualitas Udara di Dalam Rumah
Tutup pintu dan jendela ketika kondisi udara di luar sedang buruk, terutama jika asap mulai masuk ke dalam rumah. Jika tersedia, penggunaan penyaring udara juga dapat membantu meningkatkan kualitas udara dalam ruangan.
Hindari pula aktivitas yang dapat menambah polusi udara di dalam rumah, seperti membakar sampah atau menggunakan sumber asap lainnya.
4. Pastikan Anak dan Lansia Tetap Terhidrasi
Pastikan anak dan lansia mendapatkan cukup cairan sesuai kebutuhan mereka. Menjaga tubuh tetap terhidrasi membantu mempertahankan kondisi tubuh ketika menghadapi lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.
5. Perhatikan Gejala Gangguan Pernapasan
Jangan mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul selama paparan kabut asap. Batuk, mata perih, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau keluhan lain yang semakin berat perlu mendapatkan perhatian.
Jika kondisi mengkhawatirkan atau tidak membaik, segera cari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah ketika kualitas udara buruk, menggunakan masker ketika harus keluar, menghindari aktivitas fisik berat, serta segera mengakses fasilitas kesehatan jika mengalami keluhan.
Kabut Asap Bukan Hanya Tentang Udara yang Keruh
Karhutla sering kali terlihat dari jauh sebagai titik api di peta. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, dampaknya jauh lebih dekat. Asap bisa masuk ke rumah. Anak-anak harus membatasi aktivitas.
Lansia harus lebih berhati-hati. Orang tua mulai menyediakan masker dan kebutuhan kesehatan. Ketika api mengancam permukiman, rasa khawatir bahkan dapat berubah menjadi kebutuhan untuk bersiap mengungsi.
Itulah mengapa penanganan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya tentang memadamkan api. Ia juga tentang melindungi manusia yang berada di sekitarnya.
Pemerintah terus memperkuat penanganan karhutla melalui patroli, pemadaman darat, dukungan udara, pemantauan hotspot, serta pengerahan tenaga kesehatan dan logistik ke wilayah terdampak.
Kementerian Kesehatan juga telah mengerahkan tenaga medis dan tenaga kesehatan serta mendistribusikan bantuan logistik kesehatan ke sejumlah wilayah yang terdampak. Namun, di tengah kondisi seperti ini, kepedulian masyarakat juga tetap berarti.
Membantu Mereka Bernapas Lebih Lega
Bagi keluarga yang sedang menghadapi kabut asap, sebuah masker mungkin terlihat sederhana. Bagi seorang anak, masker itu bisa menjadi perlindungan ketika ia harus keluar rumah. Bagi seorang lansia, bantuan kesehatan bisa menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti.
Dan bagi keluarga yang tinggal dekat dengan wilayah kebakaran, bantuan darurat dapat menjadi penguat bahwa mereka tidak menghadapi situasi ini sendirian.
Yuk, klik disini untuk ikut membantu masyarakat terdampak melalui dukungan kebutuhan kesehatan, masker, obat-obatan, kebutuhan evakuasi, serta bantuan darurat lainnya sesuai kondisi di lapangan.
Karena di balik angka hotspot dan luas lahan yang terbakar, ada kehidupan yang tetap berjalan. Ada anak-anak yang ingin tetap belajar. Ada orang tua yang ingin keluarganya tetap sehat. Ada lansia yang ingin melewati hari dengan tenang.
Mari bantu mereka melewati hari-hari penuh asap dengan sedikit lebih aman dan sedikit lebih lega. Sebab ketika udara menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan, kepedulian sekecil apa pun dapat berarti besar bagi mereka yang sedang bertahan.

