Ramadhan 1447 Hijriah kembali menjadi saksi bahwa jarak ribuan kilometer tidak pernah mampu memisahkan kepedulian. Di awal bulan suci ini, Relawan Nusantara menghadirkan program Iftar untuk Palestina, menyalurkan 3.000 paket makanan siap santap bagi saudara-saudara kita di Gaza Utara. Bantuan tersebut didistribusikan secara langsung di dua titik pengungsian, yakni di Bahrain Shelter Center dan wilayah Tal Al-Hawa.
Di tengah keterbatasan yang masih menyelimuti Palestina, khususnya wilayah Gaza Utara, kehadiran paket iftar bukan sekadar makanan berbuka. Ia adalah pesan bahwa dunia belum menutup mata. Ia adalah bukti bahwa Ramadhan tetap datang membawa rahmat, bahkan di tanah yang terus diuji oleh krisis kemanusiaan.
Ramadhan di Gaza Utara: Antara Luka dan Keteguhan
Ramadhan seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan, kebersamaan keluarga, dan hidangan hangat saat adzan maghrib berkumandang. Namun bagi banyak keluarga di Gaza Utara, realitasnya berbeda. Kondisi pengungsian, keterbatasan logistik, dan sulitnya akses pangan membuat momen berbuka menjadi tantangan tersendiri.
Di lokasi pengungsian seperti Bahrain Shelter Center dan Tal Al-Hawa, ribuan warga bertahan dengan segala keterbatasan. Dalam situasi seperti ini, satu paket makanan siap santap memiliki makna yang jauh melampaui nilai materinya. Ia menjadi sumber energi setelah seharian berpuasa, sekaligus penguat batin bahwa mereka tidak sendiri.
Melalui 3.000 paket iftar yang disalurkan, Relawan Nusantara berupaya memastikan bahwa Ramadhan tetap bisa dirasakan dengan lebih layak. Setiap paket yang diterima menghadirkan senyum, rasa syukur, dan harapan yang kembali menyala.
3.000 Paket Iftar: Dampak Nyata di Tengah Krisis Kemanusiaan Palestina
Program Iftar untuk Palestina ini dirancang sebagai respons konkret terhadap kebutuhan pangan mendesak selama bulan Ramadhan. Distribusi dilakukan di dua lokasi berbeda agar bantuan menjangkau lebih banyak keluarga terdampak.
Dampaknya terasa nyata. Ribuan penerima manfaat dapat berbuka dengan makanan siap santap yang layak dan bergizi. Anak-anak yang sebelumnya menanti dengan ketidakpastian kini bisa menikmati hidangan berbuka. Para orang tua yang memikirkan bagaimana menyediakan makanan bagi keluarganya setidaknya bisa bernapas lebih lega di waktu maghrib.
Lebih dari itu, bantuan ini memperkuat rasa solidaritas global. Kehadiran dukungan dari Indonesia melalui Relawan Nusantara menjadi pengingat bahwa ikatan ukhuwah tidak dibatasi oleh batas negara. Ramadhan menjadi jembatan empati yang menghubungkan hati-hati yang saling mendoakan.a
Solidaritas Umat: Ketika Donasi Menjadi Cahaya di Bulan Suci
Program ini tidak akan terwujud tanpa dukungan para donatur dan semua pihak yang mempercayakan amanahnya melalui Relawan Nusantara. Setiap rupiah yang disalurkan berubah menjadi hidangan berbuka, menjadi energi, menjadi harapan.
Di Palestina, bantuan bukan hanya soal bertahan hidup hari ini. Ia adalah tentang menjaga semangat untuk esok hari. Tentang memastikan bahwa anak-anak tetap memiliki kekuatan untuk bermimpi, bahwa keluarga tetap memiliki alasan untuk tersenyum meski di tengah keterbatasan.
Ramadhan selalu mengajarkan bahwa berbagi tidak pernah mengurangi, justru melipatgandakan keberkahan. Apa yang telah tersalurkan di Gaza Utara adalah bukti nyata bahwa kepedulian mampu menembus batas dan menghadirkan dampak langsung.
Perjalanan kemanusiaan ini tentu belum selesai. Kebutuhan di Palestina masih besar, dan Ramadhan masih berjalan. Setiap dukungan yang kembali dihimpun akan menjadi perpanjangan tangan kebaikan, menghadirkan lebih banyak paket iftar, lebih banyak senyum, dan lebih banyak harapan.
Klik disini untuk ikut berbagi. Karena di setiap suapan berbuka yang tersaji, ada doa yang mengalir untuk mereka yang peduli. Dan mungkin, di sanalah keberkahan Ramadhan menemukan jalannya kembali kepada kita.a
