September Rekap Perjuangan Global Sumud Flotilla: Layar Solidaritas Melawan Blokade Gaza

Oct 2, 2025 | Berita, Blog, Palestina

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana kabar Global Sumud Flotilla setelah semangat besar di bulan Agustus? Apakah kapal-kapal itu berhasil berlayar menuju Gaza? Ataukah tantangan baru menghadang di tengah samudera? Untuk menjawabnya, mari kita menelusuri jejak perjalanan armada kemanusiaan ini sepanjang Bulan September, sebuah kisah penuh rintangan, namun menyimpan cahaya kemanusiaan

Setelah semangat konsolidasi dan persiapan besar yang digelar pada Agustus lalu, perjalanan Global Sumud Flotilla kini memasuki babak baru. Dari daratan menuju samudera, kisah solidaritas ini berlanjut, menorehkan sejarah kemanusiaan di bulan September.

Indonesia akhirnya bergabung bersama 44 negara dengan total 72 kapal. Para delegasi Indonesia diberangkatkan secara bertahap menuju Tunisia pada 29 Agustus 2025. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tunis. Doa bersama digelar, visi perjuangan diperteguh, dan niat diluruskan. Indonesia bahkan turut menyiapkan lima kapal dari keseluruhan armada, sebagai tanda bahwa bangsa ini tidak tinggal diam menghadapi penderitaan Gaza.

Ujian di Tunisia: Penundaan, Ancaman, dan Strategi Baru

Namun, perjalanan kemanusiaan tak pernah mulus. Jadwal pelayaran yang semula ditetapkan 4 September harus mundur ke 7 September, lalu kembali diundur hingga 10 September karena kendala teknis. Sementara itu, pada 8 September, kapal utama GSF Family Freedom diserang drone di pelabuhan Sidi Bou Said, Tunisia. Malam itu gelap penuh ancaman, namun Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa, semua penumpang dan awak selamat.

Hari-hari di Tunisia menjadi ujian kesabaran. Delegasi Indonesia menunggu waktu pelayaran. Banyak kapal yang sudah mulai rusak karena serangan, logistik yang menipis, dan bayang-bayang ancaman yang terus menghantui. Dalam musyawarah panjang, akhirnya diputuskan kapal Indonesia diserahkan kepada armada sahabat dari Eropa yang lebih siap secara teknis. Keputusan itu bukan tanda mundur, melainkan strategi, sebab perjuangan besar tak selalu lurus maju, terkadang harus berputar, menyusun ulang barisan, demi tujuan yang lebih mulia. Di situlah kesabaran, kedewasaan, dan keteguhan diuji. Bukan untuk menyerah, melainkan menjaga api perjuangan agar tetap menyala.

Mengarungi Samudera: Solidaritas, Ancaman, dan Perjuangan Bertahap

Namun tetap saja, Indonesia hadir di garis depan. Wanda Hamidah, salah seorang delegasi, akhirnya bisa ikut berlayar menuju Gaza menaiki kapal terakhir yang berlayar. Disusul oleh Muhammad Husein Gaza, yang akhirnya juga bisa ikut berlayar menuju Gaza, menaiki kapal bantuan. Meski strategi awal yang hendak berangkat serentak berubah, konvoi ini tetap berjalan, meski bertahap. Dan pesan penting ditegaskan kembali, GSF bukan semata-mata soal mengirim bantuan kemanusiaan, melainkan sebagai teguran moral bagi negara-negara di dunia, yang masih bungkam di hadapan blokade Gaza.

Perjalanan di laut penuh ancaman. Serangan drone, intimidasi, dan operasi psikologis terus menghantam. Namun, setiap percobaan menakut-nakuti justru menambah semangat para aktivis. Hingga akhirnya, 28 September, dua kapal utama Oh Waila dan All In dilaporkan sudah mendekat, hanya 366 mil laut dari Gaza, dengan perkiraan tiba dalam tiga hingga empat hari. Harapan seolah mulai terlihat di cakrawala.

Hampir Sampai di Gaza: Harapan dan Perlawanan Terus Berlayar

Namun fajar tak selalu menjanjikan terang. Pada 1 Oktober 2025, saat hanya berjarak 114 mil laut dari Gaza, Angkatan Laut Israel secara ilegal mencegat dan menaiki kapal-kapal GSF, termasuk kapal Morgana, Hio, Otaria, dan kapal-kapal lainnya di perairan internasional. Relawan kemanusiaan yang tak bersenjata itu direnggut dari pelayaran mereka. Status peserta dan awak kapal masih belum jelas, menyisakan duka dan amarah. Itu adalah tindakan brutal, pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, dan tamparan terhadap nurani kemanusiaan.

Namun api solidaritas belum padam. Hingga 2 Oktober pagi, masih ada 30 kapal yang terus berlayar, hanya berjarak 46 mil laut dari Gaza. Meski menghadapi agresi tanpa henti dari angkatan laut pendudukan Israel, mereka tetap melaju. Kapal-kapal itu tak hanya membawa logistik, tapi juga harapan. Tak hanya mengirim bantuan, tapi juga menyuarakan perlawanan damai.

Dan di tengah samudera itu, satu pesan terus berkumandang,
Bahwa perjuangan ini mungkin berliku, penuh luka, dan kadang terhenti oleh tembok baja, tetapi selamanya ia adalah perlawanan yang tak bisa dibungkam. Layar solidaritas akan terus dikembangkan, sebab kemanusiaan tidak boleh karam.

Klik di sini untuk ikut melayarkan dukungan. Karena sekecil apa pun kepedulian dari kita, adalah kekuatan yang mendorong kapal ini bisa sampai ke Gaza.

Seorang Ayah yang Berangkat Bekerja, Namun Tak Pernah Pulang

Pak Sumarna merupakan petugas keamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Pada Jumat malam, 24 Juli 2026, beliau berangkat bekerja seperti hari-hari sebelumnya.

Seperti jutaan kepala keluarga lainnya, beliau meninggalkan rumah dengan harapan sederhana: memastikan istri dan kedua anaknya tetap bisa makan, bersekolah, dan menjalani kehidupan yang layak.

Namun malam itu menjadi perjalanan terakhirnya.

Pak Sumarna meninggal dunia saat menjalankan tugas. Kepergiannya meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang kini harus melanjutkan hidup tanpa sosok ayah sebagai pencari nafkah utama keluarga.

Relawan Nusantara Hadir Menemani Keluarga yang Berduka

Alhamdulillah, berkat amanah dan kepedulian para Sahabat, Relawan Nusantara dapat menyalurkan bantuan kepada keluarga alm. Pak Sumarna di Purwakarta.

Selain memberikan santunan bagi anak yatim, tim juga mengajak sang adik memilih sendiri kebutuhan yang diinginkannya. Dengan wajah penuh antusias, ia memilih mainan, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Momen sederhana tersebut menghadirkan senyum yang perlahan kembali terlihat di wajahnya. Di tengah kehilangan yang begitu besar, perhatian dan kasih sayang menjadi penguat bahwa ia tidak menghadapi semuanya sendirian.

Bantuan yang diberikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian bagi anak-anak yang sedang belajar menerima kenyataan hidup.

Ucapan Terima Kasih dari Keluarga

Dengan penuh haru, istri alm. Pak Sumarna menyampaikan rasa syukurnya.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak. Masya Allah, semoga Relawan Nusantara, para donatur, dan seluruh relawan selalu diberikan keberkahan,” Ujar istri alm. Bapak Sumarna.

Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap bantuan yang diberikan, sekecil apa pun, dapat menghadirkan harapan bagi keluarga yang sedang menghadapi masa-masa sulit.

Menjaga Asa Pendidikan Kedua Anak

Salah satu kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah memastikan pendidikan kedua anak alm. Pak Sumarna tetap dapat berjalan.

Sosok yang selama ini menjadi penopang kebutuhan keluarga telah tiada. Dukungan dari masyarakat diharapkan dapat membantu mereka tetap bersekolah dan meraih cita-cita di masa depan.

Semoga alm. Pak Sumarna mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan kemudahan dalam menjalani hari-hari ke depan.

Mari Hadirkan Harapan untuk Anak-Anak yang Kehilangan Orang Tuanya

Duka mungkin tidak dapat dihapus. Namun kepedulian dapat menjadi alasan bagi sebuah keluarga untuk tetap memiliki harapan.

Mari bersama Relawan Nusantara mendampingi anak-anak yang kehilangan sosok ayah agar mereka tetap memperoleh haknya untuk tumbuh, belajar, dan menggapai masa depan yang lebih baik.

Yuk, Klik disini untuk menjadi bagian dari ikhtiar ini dengan mendukung pendidikan dan kebutuhan hidup anak-anak alm. Pak Sumarna.