Ketika hujan lama tidak turun, tanah mulai mengering dan api lebih mudah menjalar. Pada saat seperti itu, manusia kembali menyadari betapa berharganya air bagi kehidupan.
Dalam beberapa pekan terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi cuaca yang kering dapat membuat lahan lebih mudah terbakar dan api lebih cepat menyebar. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak, hujan tak sekadar membuat udara lebih sejuk, hujan dapat membantu membasahi tanah, mengurangi kondisi kering, menjaga sumber air, dan membantu proses pemadaman kebakaran.
Di tengah kondisi seperti ini, umat Islam memiliki salah satu ikhtiar yang diajarkan dalam Islam, yaitu shalat istisqa.
Lalu, kapan shalat istisqa dilakukan, bagaimana tata caranya, dan doa apa yang dibaca?
Apa Itu Shalat Istisqa?
Shalat istisqa adalah shalat sunnah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan atau hujan tidak kunjung turun.
Istisqa berasal dari bahasa Arab istisqa’ yang bermakna meminta air atau memohon hujan.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa; “Nabi SAW keluar menuju lapangan. Beliau meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikkan posisi selendangnya, lalu shalat dua rakaat.“ HR. Bukhari (no. 1024) dan Muslim (no. 894)
Pelaksanaan shalat istisqa bukan hanya tentang dua rakaat shalat. Di dalamnya terdapat doa, istighfar, kerendahan hati, serta pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Karena itu, shalat istisqa memiliki suasana yang berbeda dari sekadar pelaksanaan shalat berjamaah. Ia menjadi momentum untuk merendahkan diri, memperbanyak doa dan istighfar, serta memohon rahmat Allah SWT.
Kapan Shalat Istisqa Dilakukan?
Shalat istisqa dilakukan ketika masyarakat mengalami kekeringan atau hujan tidak kunjung turun sehingga membutuhkan pertolongan dan rahmat Allah SWT.
Dalam kondisi kekeringan yang berlangsung cukup lama, shalat istisqa dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual umat Islam.
Namun, memohon hujan tidak berarti mengabaikan ikhtiar lain.
Ketika terjadi kekeringan dan kebakaran hutan atau lahan, masyarakat tetap perlu melakukan berbagai langkah nyata, seperti menghemat air, mencegah pembakaran lahan, melaporkan kebakaran, serta mengikuti arahan petugas dan pemerintah.
Dengan kata lain, doa dan ikhtiar dapat berjalan bersama.
Bagaimana Tata Cara Shalat Istisqa?
Secara umum, shalat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah. Beberapa rincian teknis pelaksanaan shalat istisqa memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama. Karena itu, masyarakat dapat mengikuti tuntunan ulama atau imam yang memimpin pelaksanaan shalat di daerah masing-masing.
Dalam sejumlah tuntunan, bacaan Al-Qur’an pada shalat istisqa dilakukan secara jahr, atau dikeraskan oleh imam. Berikut gambaran tata cara shalat istisqa secara umum.
- Berniat Shalat Istisqa
Niat pada dasarnya dilakukan di dalam hati untuk melaksanakan shalat sunnah istisqa karena Allah SWT. Bagi jamaah yang ingin melafalkan niat, salah satu lafaz yang digunakan adalah:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya; “Aku menyengaja shalat sunnah istisqa dua rakaat sebagai makmum karena Allah SWT.”
- Rakaat Pertama:
Pada rakaat pertama, begini urutannya:
- Melakukan takbiratul ihram.
- Membaca takbir tambahan sebanyak tujuh kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca surah atau ayat Al-Qur’an.
- Melanjutkan gerakan shalat seperti biasa, yaitu rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
- Berdiri untuk rakaat kedua.
- Rakaat Kedua
Pada rakaat kedua, setelah berdiri dari sujud rakaat pertama:
- Imam melakukan takbir sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca surah atau ayat Al-Qur’an.
- Melanjutkan rukuk, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
- Duduk tahiyat akhir.
- Membaca tahiyat, shalawat, dan doa.
- Mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.
- Setelah Shalat, Dilanjutkan dengan Khutbah
Setelah dua rakaat selesai, imam atau khatib menyampaikan khutbah shalat istisqa.
Dalam tuntunan yang banyak digunakan, khutbah dilakukan dua kali seperti khutbah Id, meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai beberapa rincian pelaksanaannya.
Yang membedakan khutbah istisqa adalah memperbanyak istighfar dan doa memohon hujan.
Pada pembukaan khutbah pertama, dalam tuntunan tersebut khatib membaca istighfar sebanyak sembilan kali, sedangkan pada pembukaan khutbah kedua sebanyak tujuh kali.
Salah satu bacaan istighfar yang dapat dibaca adalah:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullahal ‘azhim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih.
Artinya; “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Yang Maha Berdiri Sendiri. Aku bertobat kepada-Nya.”
- Memperbanyak Doa Memohon Hujan
Bagian terpenting dari khutbah istisqa adalah memperbanyak doa dan permohonan kepada Allah SWT. Khatib dapat berdoa dengan doa-doa yang bersumber dari tuntunan Rasulullah SAW, sementara jamaah mengaminkan doa tersebut.
Salah satu doa yang masyhur dalam permohonan hujan adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا
Allahumma asqinaa, Allahumma asqinaa, Allahumma asqinaa.
Artinya; “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Doa ini menggambarkan kesungguhan manusia ketika memohon air kepada Allah SWT di tengah kondisi kekeringan.
- Khatib Menghadap Kiblat dan Membalik Selendang
Dalam salah satu tuntunan shalat istisqa, ketika khutbah kedua telah berlangsung, khatib dianjurkan menghadap kiblat untuk memperbanyak doa.
Khatib kemudian membalik atau memindahkan posisi selendang atau sorban yang dikenakannya. Dalam tuntunan fikih, jamaah juga dapat mengikuti gerakan tersebut. Praktik ini merupakan simbol harapan agar keadaan berubah, dari kekeringan menuju turunnya hujan dan dari kesulitan menuju kelapangan. Setelah itu, khatib kembali menghadap jamaah dan melanjutkan khutbah serta doa.
Berbeda dengan shalat wajib berjamaah, shalat istisqa tidak didahului azan dan iqamah.
Karena itu, jamaah cukup berkumpul di tempat pelaksanaan sesuai waktu yang telah ditentukan, kemudian mengikuti imam hingga shalat dan khutbah selesai.
Ketika Hujan Menjadi Sebuah Harapan
Di tengah lahan yang mengering, kepulan asap, dan api yang belum sepenuhnya padam, hujan mungkin terdengar seperti sesuatu yang sederhana.
Hanya air yang jatuh dari langit. Namun bagi mereka yang sedang menghadapi kekeringan, hujan bisa berarti banyak hal.
Tanah yang kembali basah.Sumber air yang kembali terisi. Udara yang lebih bersih. Api yang perlahan padam. Dan kehidupan yang kembali memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Itulah mengapa shalat istisqa memiliki makna yang begitu dalam.
Ia bukan hanya tentang meminta hujan. Ia adalah tentang manusia yang menyadari keterbatasannya, kemudian kembali kepada Allah dengan doa, istighfar, dan kerendahan hati.
Sementara itu, di bumi, ikhtiar tetap harus berjalan. Api harus dipadamkan. Hutan harus dijaga. Air harus digunakan dengan bijak. Dan lingkungan harus dirawat bersama.
Sebab ketika kita meminta hujan kepada Allah, pada saat yang sama kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi yang telah dititipkan kepada kita.
Doa dan ikhtiar sebaiknya berjalan beriringan. Sembari memanjatkan doa memohon hujan, kita juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar nyata untuk saudara-saudara yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Salurkan bantuan untuk Kalimantan disini.

