Menanam pohon menjadi langkah awal dalam memulihkan lingkungan. Namun, menjaga bibit agar tetap tumbuh di tengah cuaca panas dan keterbatasan air menjadi tantangan berikutnya dalam upaya menghijaukan kawasan eks-TPA Basirih, Banjarmasin.
Program penanaman 2.500 bibit pohon yang dilaksanakan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 3 Banjarmasin, Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, dan Relawan Nusantara kini memasuki tahap pemeliharaan. Kolaborasi berkelanjutan ini untuk merawat tanaman sekaligus menyiapkan penanaman ulang saat musim hujan. Berdasarkan hasil monitoring pada September 2026, tingkat kelangsungan hidup bibit berada di kisaran 30–40 persen, masih di bawah target awal sebesar 70–80 persen.
Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar untuk memperkuat perawatan tanaman yang masih bertahan dan menyiapkan langkah penyulaman.
Musim Kemarau Menjadi Tantangan bagi Pertumbuhan Pohon
Kawasan eks-TPA Basirih memiliki tantangan lingkungan tersendiri dalam proses pemulihannya. Setelah penanaman dilakukan, pertumbuhan bibit masih dipengaruhi oleh kondisi tanah, ketersediaan air, dan cuaca di sekitar lokasi.
Hasil monitoring pada September 2026 menunjukkan bahwa cuaca panas ekstrem, meningkatnya suhu tanah akibat proses penguraian sampah di bawah permukaan, serta terbatasnya sumber air menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup bibit.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penghijauan membutuhkan perhatian yang berkelanjutan setelah penanaman. Selain memastikan bibit tertanam dengan baik, perawatan juga diperlukan untuk membantu tanaman menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Perkuat Perawatan di Tengah Keterbatasan Air
Untuk menjaga keberlangsungan tanaman, tim fasilitator bersama 20 relawan dan pihak terkait melakukan sejumlah langkah mitigasi. Upaya tersebut meliputi optimalisasi penyiraman menggunakan sumber air alternatif yang tersedia, pemindahan tanaman ke area yang lebih mendukung, serta perawatan melalui sistem infus air dan penyiraman rutin pada pagi dan sore hari.
Langkah ini dilakukan untuk membantu tanaman memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau, sekaligus menjaga bibit yang masih bertahan agar memiliki peluang tumbuh lebih baik.
Fasilitator program, Mustaqim, menjelaskan bahwa kegiatan penyulaman atau penggantian bibit yang mati belum dilakukan. Penanaman ulang direncanakan secara serentak saat musim hujan tiba agar ketersediaan air lebih memadai dan peluang hidup bibit pengganti meningkat.
Sebanyak 400 Bibit Disiapkan untuk Penyulaman
Selain memperkuat pemeliharaan, tim juga menyiapkan langkah lanjutan untuk mendukung keberhasilan program. Sekitar 400 bibit cadangan dipersiapkan untuk menggantikan tanaman yang mati ketika kondisi sudah lebih memungkinkan.
Persiapan tersebut turut mencakup perbaikan sistem infus air serta pemenuhan kebutuhan pendukung, seperti pupuk organik dan mulsa, untuk membantu memperbaiki kondisi tanah dan menjaga kelembabannya.
Dengan langkah ini, program penghijauan tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga memastikan setiap upaya yang telah dilakukan mendapat perawatan berkelanjutan.
Menjaga Keberlanjutan Penghijauan di Banjarmasin
Program penghijauan eks-TPA Basirih menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan mendorong pemulihan kawasan bekas tempat pembuangan akhir. Tantangan musim kemarau menjadi pengingat bahwa upaya menghijaukan lahan membutuhkan proses, ketekunan, serta perawatan yang berkesinambungan.
Dukungan masyarakat dan para pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program ini. Melalui kolaborasi dan langkah pemeliharaan yang tepat, harapannya semakin banyak pohon yang dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Mari ambil bagian dalam mendukung berbagai aksi kebaikan agar semakin banyak upaya pemulihan lingkungan yang dapat dilakukan dan memberikan manfaat bagi masa depan. Mari dukung aksi penghijauan dengan menanam pohon untuk hutan Indonesia.
