Enam hari telah berlalu sejak bencana longsor meluluhlantakkan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Namun bagi para keluarga korban, waktu seakan berhenti di hari pertama tanah itu runtuh. Hingga Jumat, 30 Januari 2026, Operasi Search and Rescue (SAR) masih terus berlangsung, menyisakan duka mendalam sekaligus harapan yang belum sepenuhnya padam.

Relawan Nusantara kembali turun ke lokasi bencana, bergabung bersama puluhan relawan dari berbagai unsur. Mereka menyusuri tanah, menggali puing-puing, dan menyibak lumpur yang menutup jejak kehidupan. Hingga hari keenam ini, tercatat 60 korban jiwa telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara 20 korban lainnya masih dalam proses pencarian.

Hari Keenam Pencarian: Di Antara Lelah dan Doa yang Tak Putus

Operasi SAR di hari keenam bukan sekadar tentang teknik penyelamatan atau peralatan berat. Ia adalah pertarungan antara keterbatasan fisik manusia dan keyakinan bahwa setiap nyawa layak diperjuangkan hingga akhir. Medan yang sulit, cuaca yang tak menentu, serta risiko longsor susulan tidak menyurutkan langkah para relawan.

Di balik helm dan rompi penyelamatan, tersimpan rasa lelah yang tak terucap. Namun setiap alat yang diayunkan selalu dibarengi doa, semoga pencarian hari ini membawa kabar, apa pun bentuknya, agar keluarga korban tidak terus hidup dalam ketidakpastian. Bagi Relawan Nusantara, operasi ini bukan sekadar menjalankan tugas kemanusiaan, tetapi juga amanah moral.

Luka yang Tersisa di Pasirlangu

Longsor ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan rumah, kenangan, dan rasa aman warga Desa Pasirlangu. Anak-anak kehilangan orang tua, pasangan kehilangan belahan jiwa, dan orang tua kehilangan generasi penerusnya. Bagi mereka yang selamat, trauma menjadi luka yang tak kasat mata namun terasa setiap hari.

Di tengah situasi darurat ini, kehadiran relawan menjadi penopang harapan. Bantuan logistik, dukungan psikososial, hingga sekadar pelukan dan kata penguat menjadi bagian dari proses pemulihan yang sama pentingnya dengan pencarian korban.

Solidaritas yang Menjadi Nafas Operasi Kemanusiaan

Operasi SAR yang berlangsung hingga hari keenam ini tidak mungkin berjalan tanpa dukungan banyak pihak. Solidaritas masyarakat, donasi dari para dermawan, serta doa yang terus mengalir menjadi energi bagi para relawan di lapangan.

Setiap bantuan yang diberikan bukan hanya angka, melainkan wujud kepedulian nyata. Ia menjelma menjadi bahan bakar alat berat, logistik untuk relawan, kebutuhan keluarga korban, hingga layanan dukungan trauma bagi warga terdampak.

Di Pasirlangu, bantuan sahabat hadir sebagai harapan. Harapan bagi mereka yang masih menunggu kabar orang tercinta, dan harapan bagi desa yang sedang berusaha bangkit dari reruntuhan.

Bencana mungkin datang tanpa permisi, tetapi kepedulian selalu punya pilihan untuk hadir. Saat tanah runtuh dan harapan nyaris terkubur, uluran tangan sahabat menjadi cahaya yang menuntun mereka bertahan.

Pasirlangu masih berduka, dan perjuangan ini belum usai. Klik disini untuk ikut mengulurkan tangan bagi saudara kita yang terdampak bencana. Mari terus bersama, menjaga harapan tetap hidup, hingga setiap korban ditemukan dan setiap luka perlahan dipulihkan.