Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, kabar penuh haru datang dari Gaza Utara. Di kawasan Tal Al-Hawa, sebuah masjid darurat akhirnya berdiri berkat dukungan dan kolaborasi para dermawan. Di tengah bangunan yang hancur dan suasana kewaspadaan yang masih menyelimuti, rumah ibadah ini menjadi tanda bahwa harapan belum pernah benar-benar padam.

Masjid darurat seluas 225 meter persegi tersebut mampu menampung sekitar 500 jamaah. Bagi warga yang selama berbulan-bulan kehilangan ruang aman untuk bersujud, kehadiran masjid ini bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah tempat kembali, tempat hati menemukan tenang, tempat doa kembali terangkat, dan tempat air mata berubah menjadi kekuatan.

Ruang Ibadah Layak di Tengah Krisis Kemanusiaan

Masjid ini dilengkapi berbagai kebutuhan ibadah seperti lemari penyimpanan, mimbar, rak sepatu, karpet penuh seluas bangunan, instalasi listrik, sistem audio, hingga mushaf Al-Qur’an. Setiap detail dihadirkan agar warga dapat beribadah dengan layak, terutama saat Ramadhan tiba, bulan ketika spiritualitas menjadi sandaran utama di tengah ujian berat kehidupan.

Di wilayah yang akses listrik, keamanan, dan fasilitas dasar masih terbatas, berdirinya satu masjid berarti menghidupkan kembali denyut kehidupan. Anak-anak dapat belajar mengaji, para orang tua kembali berkumpul dalam salat berjamaah, dan masyarakat memiliki ruang untuk saling menguatkan.

Rasa Syukur Warga Palestina Menyambut Masjid Baru

Seorang warga Palestina menuturkan kesaksiannya, ia berkata tidak mampu menahan kalimat Allahu Akbar. Air matanya jatuh dua kali, yakni saat pertama kali memasuki masjid dan ketika iqamah dikumandangkan. Baginya, terbangunnya kembali rumah Allah setelah kehancuran adalah anugerah yang tak terlukiskan.

Ia meyakini bahwa dari kebaikan para dermawan, azan akan kembali berkumandang dan salat tarawih akan ditegakkan. Tempat ini akan menjadi rumah ketenangan setelah keletihan panjang, menara zikir setelah luka, serta ruang doa bagi keluarga dan masyarakat di Jalur Gaza.

Kesaksian itu bukan sekadar ungkapan emosi. Ia adalah bukti bahwa setiap bantuan yang dikirim benar-benar menyentuh jiwa manusia, menghidupkan harapan yang hampir redup.

Peran Relawan Nusantara dalam Menghidupkan Syiar di Gaza

Pembangunan masjid darurat ini menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan yang dihadirkan oleh Relawan Nusantara. Melalui dukungan masyarakat Indonesia, masjid yang dinamai Masjid Umar bin Khattab itu kini berdiri sebagai simbol persaudaraan lintas batas.

Warga Gaza menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada rakyat Indonesia. Mereka meyakini bahwa dari tempat inilah Al-Qur’an akan dihafal, salat akan terjaga, dan generasi baru akan tumbuh dengan iman yang tetap teguh meski hidup di tengah konflik.

Ramadhan, Doa, dan Harapan yang Terus Hidup

Ramadhan selalu datang membawa cahaya, bahkan di tempat paling gelap sekalipun. Berdirinya masjid darurat di Gaza Utara menjadi pengingat bahwa kebaikan sekecil apa pun mampu menghadirkan perubahan besar. Dari satu bangunan sederhana, lahir kembali kehidupan spiritual.

Di sanalah tangan-tangan akan terangkat memohon keselamatan. Di sanalah ayat-ayat suci kembali dilantunkan. Dan di sanalah harapan tentang masa depan yang damai terus dijaga.

Karena itu, perjuangan kemanusiaan ini belum selesai. Dukungan yang terus mengalir akan menghadirkan lebih banyak ruang ibadah, makanan, obat-obatan, dan kehidupan yang lebih layak bagi saudara-saudara kita di Palestina.

Klik disini untuk ikut menjadi bagian perjuangan ini. Sebab setiap kebaikan yang dititipkan hari ini akan kembali sebagai cahaya yang menerangi Gaza, dan juga menerangi hati mereka yang memberi.