Malam telah larut ketika laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali diterima di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Saat sebagian besar warga beristirahat, para relawan masih berjibaku memadamkan api di dua lokasi berbeda hingga Minggu dini hari.
Pada Sabtu malam, sekitar pukul 22.00 WIB, tim Relawan Nusantara bergerak menuju Jalan Trans Kalimantan, Kelurahan Kelampangan. Di kawasan tersebut, sekitar 50 kepala keluarga (KK) tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB, laporan kebakaran di Jalan Kalibata kembali menggerakkan tim untuk melanjutkan upaya pemadaman.
Tantangan Menghadapi Api di Bawah Permukaan Lahan Gambut
Dalam penanganan tersebut, Relawan Nusantara mengerahkan empat personel tim medis dan lima relawan pemadam dengan membawa mesin alkon serta peralatan pendukung. Namun, upaya memadamkan api di lahan yang terbakar tidak selalu bisa dilakukan hanya dengan menyiram permukaannya.
Pada lahan gambut, api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah sehingga titik panas sulit dijangkau. Kondisi ini membuat proses pemadaman harus dilakukan secara berulang dengan tenaga ekstra.
Salah satu alat yang digunakan adalah nozzle tusuk untuk membantu menjangkau titik panas di bawah permukaan tanah. Relawan harus menusukkan alat ke tanah, menariknya kembali, lalu mengulangi proses yang sama di titik lainnya. Keterbatasan akses air turut menambah tantangan selama penanganan.
Tusuk, tarik, lalu ulangi lagi. Gerakan itu terus dilakukan di tengah kondisi lapangan yang berat, sementara waktu terus berjalan hingga menjelang pagi.
Kondisi Fisik Tim Pemadam Jadi Perhatian Utama
Upaya penanganan berlangsung selama berjam-jam. Para relawan baru kembali setelah waktu subuh, usai berjibaku menangani kebakaran di dua lokasi tersebut.
Di tengah tugas panjang itu, kondisi fisik petugas turut menjadi perhatian. Beberapa relawan MDMC terlihat mengalami kelelahan, bahkan ada yang muntah-muntah. Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya menghadapkan petugas pada api dan asap, tetapi juga pada beban fisik yang berat selama berjam-jam.
Naufal Fajrul Haqqi dari Relawan Nusantara menyampaikan bahwa proses pemadaman membutuhkan tenaga, kesabaran, dan koordinasi tim, terutama ketika titik api berada di bawah permukaan tanah dan akses air terbatas.
“Perjuangan di lapangan cukup berat. Kami harus berulang kali menggunakan nozzle tusuk untuk menjangkau titik api di bawah permukaan tanah. Tusuk, tarik, lalu mengulang lagi di titik berikutnya. Ditambah akses air yang terbatas, proses pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Kami terus berupaya semaksimal mungkin, tetapi kondisi dan keselamatan relawan juga harus tetap diperhatikan,” ungkap Naufal.
Penanganan karhutla membutuhkan dukungan peralatan yang memadai, akses air, dan koordinasi antar tim. Di saat yang sama, kondisi kesehatan petugas perlu terus diperhatikan, terutama ketika pemadaman berlangsung hingga dini hari.
Relawan Nusantara terus berupaya membantu penanganan karhutla di Palangka Raya. Di balik setiap upaya pemadaman, ada kerja panjang para relawan untuk mencegah api meluas dan mengurangi risiko bagi masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Mari terus dukung masyarakat dan para relawan di tengah Karhutla.


