Kabupaten Bandung, 20 Februari 2026 – Kolaborasi antara Bandung Biru 14K dan Relawan Nusantara kembali membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi jembatan kepedulian sosial. Melalui event lari yang diikuti ratusan peserta, bantuan kebutuhan dasar berhasil disalurkan kepada 16 bayi yang tinggal di Panti Bayi Asuh ABI, Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Di sebuah rumah kontrakan sederhana di Cluster Talun Indah, Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, bayi-bayi berusia 1 bulan hingga 2 tahun itu kini bertumbuh. Mereka datang dari latar belakang keluarga yang tidak selalu ideal. Namun satu hal yang pasti, mereka memiliki hak yang sama untuk hidup, sehat, dan merasakan kasih sayang.
Bantuan yang diberikan berupa pampers, susu bayi, biskuit bayi, serta dukungan operasional panti. Bagi sebagian orang, bantuan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para pengasuh dan bayi-bayi di dalamnya, itu adalah napas keberlanjutan, jaminan bahwa kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi di tengah keterbatasan.
Perwakilan Relawan Nusantara menyampaikan bahwa event ini bukan sekadar agenda olahraga tahunan. Setiap kilometer yang ditempuh para pelari adalah simbol langkah nyata kepedulian. Setiap keringat yang jatuh diterjemahkan menjadi susu untuk bayi prematur, popok untuk anak tanpa identitas, dan harapan bagi masa depan yang lebih layak.
Atala dan Nafas yang Diperjuangkan
Di salah satu kamar, ada Atala. Usianya baru empat bulan. Tubuhnya mungil, matanya masih sering terpejam lebih lama dari bayi lain. Ia lahir pada 3 Oktober 2025 dalam kondisi prematur. Sejak awal, hidup tidak memberinya sambutan yang mudah.
Konflik keluarga, tuntutan tes DNA, ketidakpastian status orang tua, semuanya sudah menjadi latar belakang sebelum ia bahkan sempat mengenal dunia. Saat tiba di panti, nafasnya belum stabil. Paru-parunya belum berkembang sempurna.
Tim panti berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain di Bandung demi mencari ruang NICU yang tersedia. Sepuluh hari di ruang intensif menjadi pertempuran sunyi antara harapan dan ketakutan.
Hari ini, Atala masih harus minum susu khusus. Ia masih kontrol rutin ke dokter mata, THT, dan saraf. Tapi ia bertahan. Dan setiap kaleng susu yang tersedia di rak kecil panti adalah hasil dari kepedulian orang-orang yang mungkin tak pernah ia kenal.
Tanpa bantuan yang datang melalui kolaborasi sosial seperti ini, perjuangannya akan jauh lebih berat.
Tasya dan Identitas yang Hilang
Di ruang lain, ada Tasya. Ia adalah yang paling besar di antara mereka. Pada suatu malam di akhir Desember 2023, seorang ibu mengetuk pintu panti dan menitipkannya. Bayi dua bulan itu datang dengan tubuh penuh kerak kering bersisik. Selama dua bulan pertama hidupnya, ia belum pernah dimandikan.
Tasya lahir prematur dengan berat hanya 1,5 kilogram. Ia tidak membawa surat kelahiran. Tidak ada KTP orang tua yang ditinggalkan. Tidak ada dokumen apa pun yang membuktikan keberadaannya di mata negara.
Ia sempat kesulitan menyusu. Berat badannya tak naik. Bahkan saat menangis pun, suaranya nyaris tak terdengar. Terapi dua kali seminggu perlahan mengubah keadaan. Sekarang ia sudah bisa menyusu lebih baik. Ia mulai mengeluarkan suara. Ia mulai menunjukkan kepada dunia bahwa ia ingin hidup.
Mediasi pernah dilakukan hingga ke Lampung, dengan pendampingan kepolisian. Keluarga menyatakan ingin mengambilnya kembali, tapi tanpa kepastian waktu. Hingga kini, Tasya tetap tinggal di rumah kecil itu, tanpa identitas resmi. Tapi ia ditumbuhkan melalui cinta. Dan cinta itu membutuhkan dukungan nyata. Membutuhkan susu yang cukup. Pampers yang tak pernah habis. Biaya terapi yang terus berjalan.
Dampak Nyata Kolaborasi Sosial di Kabupaten Bandung
Mungkin kita tidak tinggal di rumah itu. Mungkin kita tidak mendengar tangisan mereka setiap malam. Tapi melalui langkah-langkah kecil yang kita berikan, entah dengan berlari, berdonasi, atau menyebarkan kisah ini, sebenarnya kita telah ikut menjaga agar harapan di dalamnya tetap menyala.
Bantuan dari Bandung Biru 14K bukan sekedar penyaluran barang. Ia adalah pesan bahwa anak-anak ini tidak sendirian. Bahwa di luar sana, ada orang-orang yang peduli pada nafas mereka, pada pertumbuhan mereka, pada masa depan mereka.
Enam belas bayi itu bukan hanya angka. Mereka adalah enam belas kemungkinan. Enam belas masa depan. Enam belas alasan untuk tidak berhenti peduli. Karena di rumah kecil Rancaekek itu, harapan tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari tangan-tangan yang memilih untuk berbagi. Dan mungkin, setelah membaca kisah ini, tangan berikutnya adalah milik kita.
Klik disini untuk ikut mengulurkan kebaikan pada saudara kita
