Hujan deras yang mengguyur selama empat hari berturut-turut sejak Minggu malam membuat kawasan Jalan Rawa 9, Lingkungan 11, Kelurahan Tangkahan, Kecamatan Medan Labuhan, terendam banjir cukup tinggi. Air mulai masuk ke rumah-rumah warga sekitar pukul satu dini hari ketika sebagian dari mereka masih tertidur. Tak banyak yang sempat diselamatkan selain pakaian yang terjangkau dan dokumen penting.

Abdurrahman Huta Suhut, salah satu warga yang terdampak, menyebutkan bahwa kondisi ini adalah banjir terbesar yang pernah dialami wilayah tersebut. “Biasanya kalau pun banjir, sehari sudah surut. Ini sudah hari ketiga, air masih sampai betis. Di ujung sana bahkan sepinggang karena datarannya lebih rendah,” ungkapnya.

Menurut pendataan warga, terdapat sekitar 200 kepala keluarga terdampak, terdiri dari 90 KK di kampung dan lebih dari 100 KK di perumahan sekitar. Akibatnya, seluruh aktivitas berhenti. Banyak warga tidak bisa bekerja sejak Kamis karena akses jalan tertutup air.

Masjid lingkungan menjadi tempat pengungsian utama. Namun jumlah warga yang berlindung sangat besar sehingga ruang tidak lagi mencukupi. Sebagian akhirnya harus menumpang di rumah tetangga atau kerabat yang tidak terdampak banjir.

Masalah terasa semakin berat karena air bersih PDAM mati, dan mesin penyedot air milik warga tidak dapat digunakan akibat terendam. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar seperti memasak, sanitasi, hingga kebutuhan dasar untuk balita dan anak-anak menjadi lebih sulit.

“Balita itu ada seratusan lebih dari yang menyusui sampai umur lima tahun,” jelas Abdurrahman. “Untuk kebutuhan balita, warga masih mengandalkan persediaan sendiri. Bantuan dari pemerintah belum kami terima.”

Warga sempat menjalankan dapur darurat secara swadaya dengan mengumpulkan bahan makanan dari donatur sekitar kampung. Namun mereka tidak tau sampai kapan bisa bertahan, karena kondisi air belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Relawan Nusantara x Gekrafs Distribusikan Bantuan Makanan

Melihat banyaknya kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, Relawan Nusantara bekerja sama dengan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) turun ke lokasi pada Jumat (29/11) untuk menyalurkan ratusan makanan siap saji kepada warga yang mengungsi maupun yang masih bertahan di rumah.

Abdurrahman menyampaikan rasa syukur atas hadirnya bantuan ini.

“Alhamdulillah. Memang sangat banyak yang dibutuhkan, pak. Makanan dalam bentuk apa pun. Karena banyaknya pengungsi yang ada di masjid,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bantuan medis khusus belum ada. Warga hanya mengandalkan obat-obatan yang mereka beli sendiri dari uang donatur.

Saat distribusi, tim dari Relawan Nusantara juga berdialog dengan para pengungsi untuk memetakan kebutuhan paling mendesak. Dari percakapan tersebut, diketahui bahwa warga membutuhkan makanan pokok, susu dan perlengkapan balita, pakaian kering, selimut, serta obat-obatan dasar. 

Ajakan untuk Menguatkan Warga yang Terdampak

Dengan jumlah warga terdampak yang besar, banyaknya balita, fasilitas terbatas, dan air yang belum surut, kebutuhan mendesak masih terus meningkat. Relawan Nusantara dan Gekrafs kini mengajak sahabat untuk membantu pemenuhan kebutuhan pokok, kebutuhan balita, air bersih, pakaian layak pakai, dan layanan kesehatan dasar.

Klik disini untuk ikut mengulurkan kebaikan. Bantuan apa pun sangat berarti bagi warga yang masih bertahan di tengah ketidakpastian kapan situasi kembali normal.