Sedawun, Relawan Goes To School, GemaBersiHaTi, Siaga Bencana, dan Berjuta Letupan Inspirasinya

22-23 Maret  2014…

Selamat pagi, Dunia. Semoga pagi ini sama luar biasanya dengan pagi-pagi sebelumnya atau mungkin justru lebih luar biasa lagi. Ya, setelah berkejaran dengan waktu dan lebih sering bersaudara dengan syuro’, syuro’, dan syuro’ yang kadang tak jarang memaksa adanya perdebatan panjang, adu argumen serta tidak ketinggalan belanja barang sana-sini, akhirnya 2 minggu tuntas sudah tergenapi.

Bismillah. Kita berangkat saudara-saudariku  para pejuang peradaban. Satu ambulans, 5 motor, 13 relawan, dan berjuta harapan yang ingin diwujudkan, mengiringi 2 jam perjalanan para anak muda luar biasa ini. Seminggu setelah survei awal, medan menuju ke lokasi aksi kami nyata tidak ada yang berubah, justru semakin parah. Mulai dari sambutan sisa abu vulkanik yang masih saja tebal bahkan setelah beberapa hari berlalu sejak gunung kedua tertinggi di Jawa Timur ini “muntah”. Berlanjut dengan adanya lahar dingin yang sudah bercampur dengan air sungai sehingga berwarna kecoklatan dan masih saja deras arusnya. Setelah itu, jalan yang luluh lantak menjadi rintangan berikutnya. Bencana ini benar-benar melumpuhkan sendi-sendi desa ini. Dan yang terakhir tantangan yang paling ekstrim sekaligus yang paling membuat nyali ciut ialah jembatan utama yang seminggu lalu putus diterjang luapan lahar dingin Kelud mengharuskan kami melewati jembatan sementara yang lebarnya ‘pas’ sekali dengan badan L300 yang penopangnya hanya terbuat dari bambu, ya hanya dari bambu.

Bersyukurlah, Malang punya driver sekelas “Eyang Kakung Misnadi”. Panggilan akrab kami pada beliau yang ketika tulisan ini dibuat sudah memasuki kepala 5. Bersyukur juga kami punya L-300 kesayangan kami yang juga luar biasa kokoh dinaiki, yang ketika tulisan ini dibuat dia telah berada di kota asalnya Bandung. Setelah melalui jembatan dan sedikit jalan menanjak, akhirnya sampailah kami ber-13 di “Mutiara Perburuan” kami: SDN 4 Pandasari, SD yang kami tuju untuk kegiatan “Ekspedisi Relawan” yang meliputi kegiatan Relawan Goes to School (RGTS), Gerakan Masjidku Bersih, Tertib dan Rapi (GBHT), serta Penyuluhan Warga  terdampak erupsi. Terasa berbeda memang dengan kegiatan-kegiatan sebelum-sebelumnya yang biasanya lebih banyak dilakukan teman-teman relawan di SD, SMP/MTs, atau SMA/SMK, wilayah binaan, masjid dan wilayah yang terletak di daerah perkotaan yang biasanya kondisinya memang sudah memadai. Kali ini kami harus terjun ke sebuah desa terpencil yang benar-benar luluh lantak oleh bencana erupsi Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu. Ya, benar-benar luluh lantak.

Kondisi jalan tertutup abu akibat erupsi Gunung Kelud

Miris. Itulah yang kami rasakan pertama kali ketika menyaksikan kelas-kelas yang tak lagi berbentuk. Empat kelas yang digabungkan menjadi satu di barak yang hanya terbuat dari terpal yang disulam sebagai atapnya dan bambu-bambu yang menopangnya, serta tanah yang menjadi dasarannya. Anak-anak memakai sandal jepit butut dan wajah-wajah sedih mendalam yang dibalut sedikit senyum keterpaksaan. Kami tidak tahan dan tanpa perlu diperintah dua kali, kami pun bergegas menyebar memulai tugas pertama kami: RGTS. Kami memasuki kelas-kelas untuk berbaur dan belajar  dengan mereka, dan subhanallah, hanya butuh waktu tidak lebih dari 15 menit kami sudah bisa menyatu dengan anak-anak ini. Kami memberikan sedikit games untuk kelas 1-4, berbagi inspirasi untuk kelas 5, dan berusaha menampilkan peran terbaik di teater mini bagi kelas enam. Dan siang yang luar biasa itu akhirnya ditutup dengan menempelkan impian ke papan impian. Begitu banyak mimpi dan harapan yang terburai keluar siang itu, dan semoga Allah mengabulkan suatu saat nanti.

Relawan sharing kepada anak-anak terdampak bencana

Sudah selesaikah? Belum, belum. Perjalanan masih panjang.

Sore harinya ketika kami berpikir kegiatan ini sudah selesai, takdir memutuskan lain. Kami masih harus bertemu mereka lagi, dan jadilah sore itu lagi-lagi inspirasi meletup tidak tertahankan. Bukan hanya mereka yang mendapatkan inspirasi, kami pun para relawan ini juga mendapatkan inspirasi sama besarnya. Kereta-keretaan bulat mereka, juga pesawat harapan yang mereka terbangkan. Mereka begitu kuat menunjukkan kemauan yang besar untuk terus mau belajar, terus mau bangkit, dan terus mau mengejar mimpi-mimpi besar mereka.

Adi, Yoga, Yanuar, Luluk, dan semua adek-adek yang luar biasa. Hari ini dari halaman SD yang tidak begitu luas, kami melihat sudut pandang yang berbeda. Kami  tidak melihat anak-anak yang putus asa, anak-anak yang trauma karena bencana, tapi yang kami lihat justru: sosok-sosok yang penuh semangat, bocah-bocah dengan tawa lepas, kebahagiaan yang meluap-luap, dan ketika kami memandang sedikit lebih jauh ke hati mereka, kami melihat masa depan yang sangat cerah. Bukan hanya masa depan mereka, tapi masa depan dusun mereka, masa depan desa mereka, dan masa depan banyak anak-anak dibelahan tempat lain yang akan membuktikan pada siapapun bahwa mimpi dan pencapaian anak-anak negeri ini tidak akan bisa dihentikan hanya karena abu vulkanik dan banjir lahar.

Anak-anak tak mau kalah semangat dan ceria dari Mas Budi (Relawan-depan)

Sudah??? Belum, belum. Sabar. Petualangan masih terus berlanjut.

Malamnya setelah sholat Isya, anak-anak sudah berkumpul membentuk lingkaran besar dengan jumlah yang sangat banyak. Padahal malam itu kami tidak berniat mengadakan apa pun. Namun akhirnya dengan tanpa persiapan, aku memberikan sebuah cerita tentang sahabat Rasulullah dan tanpa diduga topik yang awalnya aku kira akan membosankan ini justru mampu membuat anak-anak begitu antusias hingga tanpa terasa 2 jam terlalui, dan akhirnya tirai cerita malam itu ditutup dengan sebuah pertanyaan dari Resti anak yang paling kecil.

“Kak sesok kate lapo maneh? Ndak sabar nunggu sesok aku.(*)

Akhirnya pertanyaan itu dijawab dengan senyuman seluruh yang ada di lantai dua masjid itu, menandakan bahwa pesta belum selesai. Esok paginya bahkan ketika matahari masih malu-malu menampakkan dirinya, kami (para relawan dan tentu saja anak-anak Desa Sedawun) berjalan beriringan memulai pagi dengan semangat menggebu-gebu untuk “mendekor” masjid desa ini yang juga tidak kalah ringseknya terkena abu vulkanik. Dengan semangat yang begitu besar, tidak sampai dzuhur masjid ini sudah begitu bersih dan siap digunakan untuk kegiatan sholat berjamaah. Sore itu di tengah-tengah halaman luas SD mereka yang sedang menggeliat untuk kembali berbenah, kami semua saling menggenggam tangan dan kami tutup bersama-sama dengan menumpuk semangat, menggabung-kan mimpi-mimpi kami, merangkaikan rencana-rencana ke depan, dan mengumpulkannya dalam satu wadah, yaitu wadah persaudaraan. Persaudaraan yang akan terus mengingatkan kami ketika salah seorang dari kami jatuh, bahwa di sudut tempat lain selalu ada orang-orang yang mengharapkan kami untuk bangkit.

GemaBersiHaTi (Gerakan Masjidku Bersih Hijau dan Tertib)

Terima kasih banyak, adik-adik yang luar biasa. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi. Terima kasih Sedawun, desa yang inspirasinya meluap-luap. Semoga terus kalian berikan pengalaman-pengalaman dan inspirasi kepada pemuda-pemuda lain yang akan datang ke tempat ini. Pengalaman dan inspirasi yang tidak akan pernah dilupakan oleh mereka sampai kapanpun. Sama seperti kami yang tidak akan pernah bisa melupakan pengalaman dan inspirasi ketika berada di sini.

(*) Kak, besok mau kegiatan apa lagi? Tidak sabar aku menunggu besok.

***

Erupsi Gunung Kelud – Jawa Timur (2014)

 

Penulis:

 

 

 

 

 

 

Yudha Pandu Kristiawan

Relawan Nusantara – Malang

 

wheels happy
Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
26 × 8 =